A PHP Error was encountered

Severity: 8192

Message: Function create_function() is deprecated

Filename: controllers/Post.php

Line Number: 84

Backtrace:

File: /var/www/phinemo.com/html/apps/application/controllers/Post.php
Line: 84
Function: _error_handler

File: /var/www/phinemo.com/html/apps/application/controllers/Post.php
Line: 22
Function: autop

File: /var/www/phinemo.com/html/apps/index.php
Line: 315
Function: require_once

DESTINATION


Kenapa Banten Pisah dari Jawa Barat? Ternyata Inilah Alasannya

Taufiqur Rohman — 23 March 2021

Keinginan masyarakat Banten untuk memisahkan diri dari Jawa Barat sebenarnya sudah muncul sejak tahun 1950 dan Orde Baru. Namun perjuangan itu selalu menemui kegagalan. Setelah reformnasi, Banten akhirnya menemukan momentum pemisahakan diri dari Jawa Barat. Pada 4 Oktober 2000, Banten telah secara resmi menjadi wilayah provinsi tersendiri. Banyak yang bertanya, kenapa Banten pisah dari Jawa Barat?

Terdapat tiga alasan utama, yaitu ketertinggalan pembangunan, angka kemiskinan yang tinggi, dan masalah keterbelakangan pendidikan. Banten memiliki tingkat kesenjangan yang tinggi dengan sejumlah daerah lain di Jawa Barat, terutama Serang, Pandeglang, serta Lebak. Melalui pembentukan provinsi Banten, rakyat ingin percepatan kesejahteraan. Meskipun setelah provinsi Banten lahir, tidak serta merta menjadi daerah maju.

Alasan lain kenapa Banten pisah dari Jawa Barat adalah status istimewa yang diberikan pemerintah kepada Yogyakarta dan Aceh. Masyarakat Banten merasa dahulu bersama Kesultanan Banten memiliki jasa besar di pertempuran melawan Belanda sehingga layak juga mendapatkan status daerah istimewa. Bahkan, di tahun 1949 pernah berdiri sendiri melawan blokade Belanda sampai haru mengeluarkan mata uang sendiri.

Baca juga: Seni Debus Pusaka Banten, Misteri kesenian Sufi Kuno di Nusantara


Seni Debus yang khas dari Provinsi Banten (tapak.id).

Perjuangan Menjadi Provinsi Banten

Jauh sebelum Negara Indonesia ada, Banten sudah dikenal luas sebagai kawasan perdagangan yang maju di abad ke-14 atau sekitar tahun 1330. Setelah kemerdekaan, Banten menjadi provinsi ke-30 di Indonesia pada tahun 2000 melalui UU Nomor 23 Tahun 2000. Sebelumnya, Banten hanya setingkat kabupaten/kotamadya di Jawa Barat yang miskin dan terbelakang dengan disparitas yang tinggi dibandingkan daerah lainnya.

Salah satu tokoh pendiri provinsi Banten adalah Embay Mulya Syarif. Ia menggerakkan perjuangan segenap masyarakat Banten untuk memisahkan diri dari Jawa Barat sejak 1950-an. Upaya itu sempat meredup pasca terjadi pembenrontakan PKI 1965. Soeharto kala itu menuduh gerakan ini sebagai bagian dari operasi PKI. Setelah Soeharto diturunkan rakyat pada reformasi 1998, Embay memanfaatkan momen ini untuk bersuara.

Kebetulan, ia bersama sejumlah tokoh Banten dipercaya mengikuti sidang istimewa MPR November 1998. Kemudian mereka dipanggil ke istana oleh Presiden BJ Habibie karena dianggap membantu keberhasilan sidang tersebut. Sejak itu, Embay sangat dekat dengan presiden. Perlahan, Embay menyampaikan supaya Banten menjadi provinsi, minta perguruan tinggi, Cilegon jadi kotamadya, dan pemekaran Banten Selatan.

Baca juga: Suku Baduy di Banten Minta Dihapus dari Destinasi Wisata, Ada Apa?


Kesultanan Banten yang pernah berjaya di masa lalu (goodnewsfromindonesia.com).

Presiden menyetujui usulan tersebut, namun ada sejumlah pejabat daerah menentang, salah satunya Bupati Pandeglang. Presiden kemudian menyarankan agar mengurus berkas-berkasnya ke DPR RI. Berbagai media massa memberitakan kabar ini dengan judul "Banten Menggeliat". Tidak lama kemudian, dibentuklah KPPB (Komite Pembentukan Provinsi Banten) untuk mempersiapkan pembentukan provinsi Banten.

Setelah itu berbagai dukungan untuk pembentukan provinsi Banten terus bergulir sampai muncul Kongres Banten 1 hingga Banten resmi menjadi provinsi pada tahun 2000. Perjuangan panjang ini belum usai, sudah 21 tahun umur provinsi Banten, masih banyak permasalahan yang menggurita menjadi benang kusut. Salah satunya adalah persoalan korupsi yang didalangi oleh mantan Gubernur Ratu Atut Chosiyah pada 2014 lalu.

Bagikan artikel ini :