A PHP Error was encountered

Severity: 8192

Message: Function create_function() is deprecated

Filename: controllers/Post.php

Line Number: 84

Backtrace:

File: /var/www/phinemo.com/html/apps/application/controllers/Post.php
Line: 84
Function: _error_handler

File: /var/www/phinemo.com/html/apps/application/controllers/Post.php
Line: 22
Function: autop

File: /var/www/phinemo.com/html/apps/index.php
Line: 315
Function: require_once

ADVENTURE


Meremehkan Alam adalah Sebuah Kesalahan Besar

Rossita Kurnia Rahayu — 1 July 2015

sikunir Foto oleh exploredick

Petualangan memang bukan suatu keharusan. Bukan pula hanya untuk sekedar menikmati alam tetapi melupakan keselamatan. Ini kali pertama saat aku harus melakukan hal sepele tetapi mengancam keselamatan. Ketika itu merencanakan petualangan ke Bukit Sikunir yang menurut referensi hanya dengan 30 menit pendakian bisa sampai puncak. Ya, tetapi tidak bagiku. Karena aku harus mengalami waktu yang lebih panjang dari 30 menit itu.

Pentingnya sebuah rencana yang matang!

Berawal dari sebuah rencana layaknya perjalanan biasa. Rencana yang direncanakan oleh aku dan temanku. Seminggu sebelum perjalanan rencana itu diagendakan. Aku hanya menyiapkan waktu kosongku untuk hari itu. Tanpa pikir panjang, dan karena keterangan dari temanku, aku pun tak perlu repot-repot mencari perlengkapan untuk kubawa. Hanya menyiapkan baju hangat seperlunya, dan makanan secukupnya. Aku pikir karena hanya 30 menit mendaki mungkin tak seberat dan tak sebanyak bawaan saat seharian mendaki gunung. Tapi ternyata, waktu lebih panjang dari 30 menit dan persiapan tak sepadan dengan itu.

Nekat! Pikirku yang memang ingin sekali pergi ke Bukit itu. Hanya berdua, aku dengan temanku, dan sama-sama perempuan. Aku sendiri sempat merasa was-was bila harus berangkat malam-malam, dengan mengendarai sepeda motor, hanya berdua, dan perempuan pula. Entah bagaimana nanti bila terjadi begal di tengah jalan!

Ku pikirkan matang-matang perjalanan itu. Hingga aku bisa mengajak seorang teman laki-laki dan suatu malam aku dan dua orang temanku pun berangkat. Setidaknya ada seorang laki-laki yang bisa menjaga di perjalanan kami.

Aku dan temanku, merencanakan berangkat malam minggu pukul 00.00 malam. Jika pergi hanya berdua perempuan semua berangkat pukul 12 malam supaya nanti sampai lokasi bisa langsung melihat sunrise dari bukit. Aku sempat berpikir itu terlalu ekstrim berangkat terlalu larut malam. Kami merubah jam keberangkatan menjadi pukul 10 malam.  Aku dan teman-temanku sampai di lokasi lebih awal dari target. Waktu itu masih pukul 03.00 WIB. Masih lama menuju sunrise-nya.

Lalu apa yang harus kita lakukan disini, gumam ku.

Meremehkan alam adalah sebuah kesalahan besar

Di tempat parkir sepeda motor, hanya ada warung-warung makan, toilet, dan mushola kecil. Tidak ada sebuah ruangan untuk beristirahat setidaknya bisa untuk melindungi tubuh dari udara luar yang amat dingin. Aku mengggigil kuat. Sungguh sangat berarti sekali sebuah tenda disaat itu. Aku diam, memikirkan mengapa tidak membawa tenda, dan mengapa berangkat lebih awal dari rencana. Saling menyalahkan juga tak mungkin. Tak ada satu temanku pun yang membawa tenda. Memang awalnya tidak ingin membawa tenda karena dirasa merepotkan. Pikir kami, ini hanya mendaki bukit selama 30 menit, sampai di sana jam 4 atau 5 pagi terus naik bukit, itulah rencana awal kami. Merubah jam keberangkatan ternyata merubah segalanya.

Udara di sana sudah mulai sangat dingin. Aku dan temanku pun semua merasa kedinginan. Jaket ku sudah tidak lagi bisa memberi rasa hangat. Api unggun beberapa orang yang sedang nge-camp di sana hanya cukup menghangatkan sebentar saja. Ku melihat ada beberapa orang yang telah mendirikan tenda di dekat telaga Cebong. Sewa penginapan di sana mahal. Sewa tenda pun sama. Mengingat bujet yang aku bawa hanya pas-pasan.

Akhirnya aku berinisiatif menggelar mantel-mantel yang dibawa, di tata di rerumputan dekat telaga. Untungnya ada satu temanku yang membawa selimut. Aku dan temanku pun berkumpul menjadi satu di tempat tadi. Saling memberi kehangatan, walau hanya dengan satu selimut untuk bertiga. Beralaskan dua buah mantel, beratapkan langit. Semilir angin membawa udara dingin yang semakin menusuk tulang. Orang-orang di sekitar mungkin ada yang melihat kami. Ada yang menawarkan penyewaan tenda, tetapi aku dan temanku menolak, hanya mengingat bujeet uang yang pas-pasan takut tidak bisa membayar sewa. Aku tak nyenyak tidur saat itu. Istirahatpun tak nyaman. Malam terasa lebih lama. Yang dirasa hanya dingin dan dingin!

***

Sedekat apa pun perjalanan, tetap saja harus menyiapkan segala sesuatunya. Estimasi waktu dan dugaan kenyataan harus dipikirkan matang.

Bagikan artikel ini :