A PHP Error was encountered

Severity: 8192

Message: Function create_function() is deprecated

Filename: controllers/Post.php

Line Number: 84

Backtrace:

File: /var/www/phinemo.com/html/apps/application/controllers/Post.php
Line: 84
Function: _error_handler

File: /var/www/phinemo.com/html/apps/application/controllers/Post.php
Line: 22
Function: autop

File: /var/www/phinemo.com/html/apps/index.php
Line: 315
Function: require_once

TIPS


Tips Mendaki saat Musim Kemarau

Agung Ristiana — 5 October 2015

tips mendaki Memadamkan kebakaran kecil di Gunung Guntur. Foto oleh Agun Ristiana

Musim kemarau bisa berarti cuaca bakal cerah dan panas, potensi hujan di gunung menjadi berkurang, pendakian pun bisa dilakukan dengan lebih menyenangkan tanpa gangguan guyuran hujan yang seringkali memberi banyak hambatan. Tapi tunggu, musim kemarau (panjang) berarti juga kita telah sampai di musim kebakaran, yang mana sekarang ini sedang sering-seringnya terjadi di gunung-gunung yang ada di negara kita tercinta.  Merbabu, Sumbing, Lawu, Ciremai, Papandayan, Guntur dan masih banyak lagi daftar gunung yang belakangan telah menjadi korban dari keganasan si jago merah.

Meski bahaya kerap mengintai, namun kadangkala hasrat untuk bertualang tetap saja selalu membara. Jika kamu akan memaksa pergi mendaki saat musim kebakaran sedang berada pada puncaknya seperti belakangan ini, beberapa tips mendaki berikut ini mungkin bisa bermanfaat;

 

Persiapan yang Harus Dilakukan

1.Pilih destinasi gunung yang tidak terlalu rawan kebakaran

Demi keselamatan, kamu perlu menepikan sedikit egomu dalam memilih destinasi pendakian yang akan kamu tuju. Lihat track record-nya selama beberapa tahun belakangan, apakah gunung tersebut rutin mengalami kebakaran setiap tahunnya? Jika ya, lebih baik pertimbangkan destinasi lainnya yang mungkin cukup aman dan tak terlalu rawan kebakaran.

Observasi kondisi terkini gunung yang akan kamu tuju

Sehari atau 2 hari sebelum waktu keberangkatan, cari info sebanyak-banyaknya tentang kondisi terkini dari destinasi gunung yang akan kamu tuju. Bila ada pengelola resmi, akan lebih baik jika kamu menghubungi langsung pihak pengelola, agar kamu dapat memastikan aman atu tidaknya gunung yang akan kamu daki. Jika pihak pengelola menyatakan gunung tersebut masih dibuka untuk pendakian, tanyakan lebih jauh tentang titik-titik kebakaran yang sering muncul.

2. Minta nomor darurat yang bisa dihubungi

Jangan lupa untuk meminta nomor-nomor pihak berwenang yang bisa dihubungi jika tiba-tiba kamu harus berhadapan dengan kebakaran hebat di tengah pendakian. Kamu bisa meminta nomor pihak pengelola gunung ataupun nomor kantor polisi terdekat. Simpan nomor tersebut di daftar teratas panggilan darurat dalam ponselmu.

Untuk nomor telepon pengelola gunung-gunung di Indonesia kamu bisa melihatnya di sini.

3. Siapkan peralatan navigasi

Bawa peta topografi dan kompas sebagai alat bantu saat harus mencari jalur alternatif untuk evakuasi. Pastikan juga kamu paham dan menguasai tata cara penggunaannya. Pelajaran tentang ilmu medan peta kompas akan sangat membantu dalam hal ini.

4.Jangan Melakukan Aktivitas yang Bisa Menyulut Kebakaran

Kebanyakan kasus kebakaran hutan yang melibatkan pendaki biasanya terjadi karena kelalaian saat membuat api unggun untuk menghangatkan badan. Jika tak terlalu perlu dan bukan untuk kebutuhan darurat, usahakan untuk tidak membuat api unggun. Jika terpaksa harus membuat api unggun untuk melawan serangan hipotermia, pastikan api tetap aman terkendali. Selengkapnya tentang api unggun dalam pendakian, bisa dibaca di artikel “7 Tips Penting saat Membuat Api Unggun dalam Pendakian”. Jika kamu seorang perokok, hati-hati juga dengan punting rokok yang kamu hasilkan, jangan buang sembarangan, apalagi jika rokok tersebut masih menyala.

 

Bagaimana Menghadapi Titik Api Ditengah Pendakian?

tips mendaki Kebakaran kecil Gunung Guntur. Foto oleh Agung Ristiana

1.Pertimbangkan dengan logis untuk mengambil keputusan terbaik

Tetap tenang dan cobalah untuk mengukur skala besar api kebakaran, pikirkan dengan logis apakah kebakaran tersebut masih berada dalam taraf aman atau sangat berbahaya. Perhatikan juga kontur tanah sekitar titik api, keadaan vegetasi, dan arah angin yang berhembus sebagai bahan pertimbangan keputusan yang bakal kamu ambil.

2.Lakukan upaya pemadaman

Jika kebakaran tersebut masih dalam skala kecil dan masih cukup terkendali, cobalah untuk melakukan upaya pemadaman, potong jalur rambatan yang mungkin akan dilahap api dengan membuat cincin tanah di sekitar titik api, agar api tidak menyebar, kemudian padamkan hingga tak ada lagi bara api yang tersisa.

3.Laporkan titik api pada pihak yang berwenang

Jika dirasa cukup berbahaya dan perlu untuk dilaporkan kepada pihak pengelola, ambil beberapa gambar dengan kamera sebagai bukti laporan kebakaran yang akan kamu buat.

4.Gunakan peta dan kompas untuk mencari jalur alternatif

Jika kondisinya lebih parah, yakni kamu terjebak di tengah kebakaran yang menutup jalur lanjut naik dan jalur kembali, gunakan peta topografi untuk mencari jalur alternative yang aman untuk evakuasi diri.

5.Pelajari tentang Perilaku Api dalam Kebakaran

Menurut para ahli, kebakaran hutan akan lebih cepat merambat saat melewati lereng-lereng yang curam dengan vegetasi yang mudah terbakar seperti padang rumput, hutan yang penuh ranting kering, saat siang hari yang panas dengan kelembaban rendah, serta angin berhembus kencang. Arah laju api biasanya akan mengikuti kemana arah angin berhembus.

 

Tempat-Tempat Aman untuk Lari dari Kebakaran

tips mendaki Mendaki musim kebakaran. Foto oleh Agung Ristiana

1.Tempat yang punya banyak air

Setiap orang pasti tahu jika air adalah musuh alami dari api, maka dari itu, tak heran jika tempat-tempat yang paling aman untuk menghindari kebakaran adalah tempat yang punya banyak air seperti sungai, danau, rawa, dan tempat sejenis lainnya.

2.Tempat terbuka tanpa vegetasi

Pada dasarnya, kebakaran di gunung menjadi sangat cepat membesar dan meluas dikarenakan banyak sekali bahan bakar seperti dedaunan kering, rumput ilalang, dan pohon berkayu yang tersedia sebagai media rambatan api. Nah, untuk menghindari api kebakaran, kamu perlu menuju ke tempat-tempat terbuka yang tak memiliki bahan yang bisa terbakar oleh api, misalnya tanah berbatu yang banyak ditemukan di sekitar puncak-puncak gunung tinggi di Indonesia. Disana kamu bakal aman terhindar dari kejaran api kebakaran.

3.Area bekas kebakaran

Api kebakaran pastinya merambat secara perlahan menghanguskan segala bahan mudah terbakar yang telah dilewatinya, dan bakal terus merambat menuju area lain yang masih belum terbakar, so, area yang sudah ditinggalkan si api pasti bakal sangat aman untuk kamu diami.

4.Laporkan Semua Titik Api yang Kamu Temukan

Sepanjang jalur pendakian yang kamu lewati, tak ditemukan satu pun titik api yang menghalangi dan membahayakan kegiatan pendakian yang kamu lakukan, namun jauh di sisi gunung seberang, kamu melihat beberapa titik api yang berpotensi menghasilkan kebakaran, apa hal ini perlu dilaporkan pada pihak petugas pengelola gunung? Tentu saja perlu, meski kecil dan tak terlihat berbahaya saat kamu temukan, titik-titik api tersebut sewaktu-waktu dapat berubah jadi kebakaran hebat dan membahayakan. Dengan adanya laporan yang kamu berikan, pihak petugas dapat menetapkan langkah-langkah penanganan yang diperlukan, dan saat benar-benar berpotensi menjadi kebakaran hebat, pihak petugas kemudian bisa segera menutup jalur pendakian demi keselamatan semua pihak.

5.Jangan Ragu untuk Kembali Pulang

Kamu perlu ingat bahwa keselamatan diri harus selalu diutamakan dalam setiap pendakian. Jika di tengah pendakian tiba-tiba keadaan menjadi sangat buruk dan berbahaya, lebih baik segera balik kanan dan langkahkan kaki dengan pasti untuk kembali turun menuju tempat aman. Jangan nekat memaksakan diri menghadapi kondisi yang membahayakan keselamatanmu, gunakan logika dan akal sehatmu untuk berpikir, mengikuti nafsu dan emosi sesaat kadangkala bisa sangat mencelakakan. Uang yang telah kamu korbankan bisa dicari kembali, pendakian yang telah kamu rencanakan dengan matang bisa dilakukan lagi di lain hari, namun jika nyawa yang melayang, ceritamu bakal berakhir sudah sampai disini. Jangan ragu untuk kembali pulang, ada jiwa-jiwa hangat yang selalu berharap kamu kembali pulang dengan selamat.

***

Tulisan ini dibuat bukan untuk menggurui, namun sebagai bahan pembelajaran bersama agar kita bisa menjadi pendaki yang lebih baik. Bila ada tips lain yang ingin kamu tambahkan, jangan ragu untuk menuliskan ide yang kamu punya di kolom komentar. Semoga bermanfaat, salam lestari!

Bagikan artikel ini :